"> Perbedaan Subgenre Metal

Perbedaan Subgenre Metal

Tulisan ini dimuat juga di kanal YouTube Metal Monolog.


Bagi para fans “baru” musik metal, atau mereka yang ingin mendalami musik metal, terdapat tantangan sendiri, yaitu mengenai banyaknya turunan atau subgenre dari musik metal itu sendiri.

Apakah ia termasuk heavy metal, thrash metal, death metal?

Musik itu terdengar sama saja.

Siapa yang peduli?

HEAVY METAL

Pengembangan dari musik rock berpadu musik blues yang kemudian menjadi inti dan pondasi awal dari semua subgenre musik metal yang terbentuk.

Heavy metal memiliki karakteristik yang lebih “ketat”, dan lebih berisik dari musik rock. Hal ini ditandai dengan suara distorsi gitar yang kuat, solo gitar yang panjang, serta ketukan yang cepat dan tegas.

Liriknya banyak berkutat pada hal-hal yang bersifat agresif, menonjolkan maskulinitas, kejantanan, dan dominasi kaum pria. Meskipun pada perkembangannya, heavy metal mengalami beragam variasi tema.

THRASH METAL

Subgenre dari heavy metal yang lebih agresif lewat penambahan unsur hardcore punk. Kecepatan, intensitas, agresifitas, riff gitar yang kompleks, dan stem gitar yang cenderung rendah adalah karakteristik utama dari thrash metal. Subgenre ini kemudian menjadikan “shredding guitar solo” sebagai pertunjukan utamanya.

Liriknya cenderung mengangkat tema mengenai masalah sosial, dengan bahasa yang kasar dan kadang mengandung bias. Thrash metal kemudian menjadi inspirasi untuk berbagai subgenre ekstrem lainnya, seperti death metal dan black metal.

GLAM METAL

“Anti-tesis” dari thrash metal yang berasal dari perpaduan antara unsur-unsur hard rock, punk rock, pop dan glam rock. Adanya pengaruh musik pop dan riff gitar yang catchy menjadikan glam metal lebih mudah diterima. Liriknya lebih sering berhubungan dengan cinta dan nafsu, kehidupan glamor, dan hiruk pikuk perkotaan.

Karakteristik glam metal juga ada pada formula power ballad yang diciptakan untuk menyasar fans wanita. Bertempo lambat, emosional, yang secara bertahap membangun ikatan yang kuat hingga akhir lagu.

DEATH METAL

Subgenre lain dari heavy metal namun berkembang dari thrash metal lewat beberapa ciri khas, yaitu ritme gitar rendah, sangat terdistorsi, perubahan tempo secara tiba-tiba, drum yang kuat dan cepat yang menonjolkan teknik double kick dan blast beat.

Lirik lagunya bertemakan kekerasan atau kematian. Juga berbagai konflik, mulai dari politik, agama, alam, filsafat, hingga kisah-kisah fiksi ilmiah.

Sementara untuk vokal, death metal biasanya dinyanyikan dengan geraman atau gerutuan yang menjadikan teknik menyanyi seperti ini mendapatkan istilah “cookie monster vocals”.

BLACK METAL

Subgenre yang sering memicu kontroversi, karena tindakan dan ideologi yang terkait dengan musisinya. Black metal itu sendiri bisa dikatakan semacam “kecelakaan” antara thrash metal dan death metal dengan karakteristik unik.

Riff gitarnya sangat cepat yang mana di dalamnya terselip melodi gitar yang samar-samar. Drum-nya juga sangat bertenaga dengan teknik double bass yang tipis, kadang bersamaan dengan pukulan snare.

Untuk lirik, sering menggunakan metafora satanis, penyembahan berhala, dewa-dewa kuno, atau tema gaib yang mengutuk agama. Lirik kemudian dinyanyikan dengan vibra di tenggorokan, bernuansa kikir yang membangun situasi layaknya penyiksaan. Terkadang, dinyanyikan bersatu seperti simfoni, yang menghasilkan turunan lain, symphonic black metal. Terkadang pula, ditambahkan efek layaknya membentuk suara atmospher.

POWER METAL

Sebuah subgenre heavy metal yang cukup berbeda karena fokus pada suara yang bising namun tidak terdistorsi. Musiknya terkesan lebih “merdu” lewat perpaduan unsur-unsur simfoni dengan keyboard sebagai bagian dari harmoni klasiknya.

Umumnya, dengan clean vocal yang tinggi, liriknya berurusan dengan elemen-elemen fantasi, mitologi, perang, kematian, politik hingga agama yang menciptakan “anthem” nan agung.

Subjek berbasis fantasi dan paduan suara yang kuat, membuat power metal identik dengan suara teater yang “dramatis” dan “emosional”.

PROGRESSIVE METAL

Subgenre yang menggabungkan unsur-unsur heavy metal dan progressive rock, dan masih memiliki relasi dengan subgenre power metal. Progressive metal memainkan distorsi gitar yang cepat, melodius, dan rumit, sehingga para pelakunya akan terlihat sangat menonjol.

Progressive metal terkenal dengan sifat eksperimentalnya pada hal-hal yang bersifat teknis dan teoritis, lewat permainan ritme dan harmoni yang berdurasi panjang. Penggunaan keyboard yang solid dan presisi menjadi salah satu kunci dari jenis subgenre ini.

Di antara riff, chorus, dan solo, musisi progressive metal sangat sering memasukkan bagian yang terinspirasi dari musik jazz, klasik, hingga musik timur tengah.

Umumnya, progressive metal menggunakan vokal bernada tinggi, dengan lirik yang biasanya terkonsep, atau berkaitan antara satu lagu dengan lagu lainnya, bahkan trilogi. Namun pada titik tertentu, progressive metal lebih memilih untuk mengisi instrumentasi lebih banyak dibanding vokal, atau tanpa vokal sama sekali.

NEO-CLASSICAL METAL

Subgenre dari heavy metal yang sangat dipengaruhi oleh elemen musik klasik dan dibalut dengan permainan yang sangat teknis, utamanya kecepatan bermain gitar. Elemen musik klasik sangat mempengaruhi subgenre ini, mulai dari gaya bermain hingga model komposisi. Hal ini membuat musiknya terkesan “meminjam” elemen dari komposer musik klasik yang sudah ada.

Meski demikian, subgenre ini tidak selalu mengangkat isu-isu mengenai estetika klasik yang mengandung banyak falsafah dan formalisme.

Neo-classical metal sangat sulit untuk diidentifikasi, karena beberapa di antara mereka terdengar seperti power metal, kadang progressive metal, bahkan terkesan symphonic metal.

SYMPHONIC METAL

Jenis musik metal yang muncul dari gothic rock dan dibenturkan dengan tiga subgenre metal yang sudah ada sebelumnya: power metal, progressive metal, dan neo-classical metal.

Symphonic metal memiliki karakteristik drum yang “meledak” dengan berbagai elemen orkestra dari musik klasik. Mulai dari instrumen simfonik, paduan suara, hingga penggunaan full orkestra. Namun, adaptasi keyboard ala power metal menjadi titik fokus, hal dasar yang membedakan musik symphonic metal dengan musik metal lainnya.

Symphonic metal umumnya menggunakan vokalis wanita yang sudah punya pengalaman atau latar belakang terhadap musik klasik atau opera. Beberapa band juga menggunakan vokalis kedua untuk menampilkan fitur growl pada musiknya.

DOOM METAL

Subgenre dari musik heavy metal yang sangat khas, yaitu dengan tempo lambat, stem gitar yang rendah, dan suara gitar lebih “tebal” atau “berat” jika dibandingkan dengan subgenre heavy metal lainnya. Struktur musik doom metal sangat berakar pada skala yang sama seperti pada musik blues.

Gitar dan bass-nya sering diturunkan ke nada yang sangat rendah dan menggunakan distorsi dalam jumlah besar, sehingga menghasilkan nada “tebal” atau “berat”.

Vokalnya cenderung “bersih”, yang dilantunkan dengan rasa sakit. Lirik sering mengusung tema mengenai rasa putus asa, rasa takut, dan “harapan” agar segera terjadi malapetaka.

STONER METAL

Subgenre dengan karakteristik menyerupai doom metal, dipengaruhi oleh musik blues dengan tempo lambat namun lebih psychedelic yang dimaksudkan untuk menciptakan nuansa yang agak retro.

Stoner metal biasanya dimainkan dengan teknik slow-to-mid tempo dengan suara yang sangat terdistorsi. Penuh dengan suara bass yang berat, vokal melodi, dan tentunya produksi musik yang “retro”. Bisa dikatakan, stoner metal mengambil semua elemen heavy metal, lalu menjadikannya lebih lambat, namun masih menyisakan distorsi dan agresi yang sama, namun tidak pada kecepatannya.

Ada kalanya (meskipun tidak semua), band-band stoner metal menjadikan citra mariyuana sebagai inti dalam lirik dan album mereka.

SLUDGE METAL

Varian lain dari doom metal, yang masih bersinggungan dengan stoner metal, namun lebih memilih untuk menggabungkan elemen dari doom metal dan hardcore punk. Sludge metal umumnya lebih keras dan kasar, dengan instrumen yang sangat terdistorsi.

Sludge metal menggabungkan tempo “lambat”, ritme yang berat dan gelap, atmosfer pesimis dari doom metal, agresifitas, teriakan, dan sesekali menggunakan tempo cepat ala hardcore punk.

Instrumen gitar dan bass biasanya distem lebih rendah, dan sering dimainkan dengan banyak feedback. Hal ini untuk menghasilkan suara yang tebal namun kasar. Selain itu, solo gitar sering tidak digunakan.

Untuk vokal, sludge metal memiliki karakterisitik berteriak atau menjerit, dan liriknya cenderung mengandung sifat pesimistis. Politik, penderitaan, penyalahgunaan narkoba, dan kemarahan terhadap masyarakat adalah tema yang umum digunakan pada lagu-lagu sludge metal.

GROOVE METAL

Terinspirasi oleh thrash metal, sludge metal, dan hardcore punk, groove metal memadukan riff gitar yang berat, disetel rendah, dan ritme yang selaras. Pada titik tertentu, riff groove metal terdengar menyerupai riff death metal.

Berbeda dengan thrash metal, groove metal biasanya sedikit lebih lambat. Hal ini dikarenakan groove metal lebih fokus pada suara yang keras nan groovy, sementara thrash metal lebih fokus pada kecepatan.

Tipe permainan drum dalam groove metal umumnya menggunakan double-bass dengan penekanan “bergelombang”, dibanding model double bass yang cepat dan meledak-ledak seperti model extreme metal pada umumnya.

Sementara teknik vokal dalam groove metal tergolong variatif, berteriak, menggeram, menjerit, hingga bernyanyi sangat serak. Liriknya banyak mengirim pesan mengenai pergelutan hidup dan penebusan lewat perlawanan.

INDUSTRIAL METAL

Subgenre yang muncul lewat spirit eksplorasi. Memadukan heavy metal dengan musik industrial. Subgenre ini biasanya menggunakan riff gitar yang berulang, penggunaan synthesizer, dan pengunaan beberapa potongan suara yang sudah jadi, kemudian dimasukkan ke dalam musiknya.

Saat live, mereka senang menonjolkan kerumitan. Mulai dari visual, tata panggung, tata cahaya, hingga pyrotechnic yang beresiko.

Dengan vokal yang terdistorsi, tema yang diangkat cukup beragam, sebagian besar berkaitan dengan eksplorasi diri yang gelap. Mulai dari politik, agama, keserakahan, ketenaran, kecanduan, penipuan diri, penyesalan, hingga nihilisme.

ALTERNATIVE METAL

Kombinasi dari musik rock yang memasukkan unsur heavy metal dengan beragam genre yang tidak berasosiasi dengan musik metal itu sendiri. Alternative metal kemudian menciptakan beragam variasi, mulai dari nu metal, funk metal, hingga rap metal.

Salah satu yang membedakan subgenre metal ini adalah fokusnya pada nada melodi dan musik yang lebih “ringan”. Alternative metal memilih untuk bereksperimen dengan beragam struktur dari suara musik metal yang umum, termasuk lirik yang aneh-aneh.

Alternative metal lebih mudah diterima sebagai sebuah musik yang disatukan oleh rasa tanpa kompromi terhadap subgenre metal yang sebelumnya sudah diklasifikasikan.

GRINDCORE

Subgenre yang memadukan heavy metal bersama hardcore punk, death metal, industrial music, dan beberapa variasi hardcore. Grindcore punya karakteristik suara yang sangat berisik dengan gitar berdistorsi tebal, tempo berkecepatan tinggi, blast beats, dan bass berdistorsi.

Karakteristik lain dari grindcore adalah “microsong,” sebuah lagu yang hanya berlangsung beberapa detik saja. Karena itu, album mereka akan disesaki dengan puluhan lagu.

Teknik vokal grindcore penuh dengan teriakan tinggi maupun geraman rendah. Liriknya memiliki nuansa provokatif. Umumnya mengangkat tema sosial dan politk.

METALCORE

Subgenre hasil dari perpaduan antara elemen musik metal bersama hardcore punk, grindcore, hingga crust punk. Musiknya memiliki riff gitar yang berat, teknik double bass drum, dan sesekali dengan blast beats.

Dengan banyaknya subgenre perpaduan metal dan hardcore, metalcore dapat dibedakan dengan penekanan pada teknik bernama “breakdown”. Breakdown adalah bagian “lembut” dari sebuah lagu yang kemudian dikeraskan, sehingga penonton bisa terpancing untuk melakukan moshing.

Teknik vokal metalcore umumnya berteriak, kadang menggunakan teknik death growl ala death metal, namun bisa pula dipadukan dengan menyanyi biasa, utamanya pada bagian bridge dan chorus. Tema lirik tidak menjurus ke ekstrim, tapi jauh lebih positif, menceritakan cinta, masalah mental, atau agama.

DEATHCORE

Subgenre turunan dari metalcore dengan penambahan unsur-unsur dari death metal. Karakteristik utamanya ada pada perpaduan antara elemen death metal seperti kecepatan, riff yang sangat berat, serta blast beat, yang dipadu dengan breakdown ala metalcore.

Selain breakdown, deathcore juga mudah dikenali lewat perpaduan teknik dengan palm mute, sebuah teknik “meredam” bunyi senar gitar untuk sesaat.

Teknik bernyanyi dengan menggunakan geraman rendah dan jeritan merupakan teknik yang umum dijumpai dalam deathcore. Untuk penggunaan lirik, kadang tidak memiliki relasi terhadap death metal, karena lebih mengarah ke metalcore, yaitu sekitar pengalaman pribadi, termasuk soal jatuh cinta.

FOLK METAL

Subgenre heavy metal yang terbentuk akibat perpaduan dengan elemen musik folk. Termasuk dengan penggunaan alat-alat musik tradisional, mulai dari yang umum sampai yang eksotis.

Folk metal punya ciri khas dengan keanekaragamannya, lewat gaya yang berbeda antara satu band dengan yang lainnya. Penggunaan berbagai macam instrumen folk dalam subgenre ini membuat band terdiri dari banyak personil dalam susunan pemain reguler mereka.

Teknik vokal yang digunakan beragam, mulai dari clean vocal, growl, teknik vokal folk, hingga paduan suara. Beragamnya gaya dan instrumen musik yang digunakan kemudian dicocokkan dengan teknik vokal yang digunakan.

Tema yang diangkat dalam folk metal biasanya seputar fantasi, mitologi, paganisme, sejarah, dan alam.

KAWAII METAL

Subgenre yang mencampuradukkan heavy metal dengan j-pop, musik populer asal jepang. Komposisi musik dari subgenre ini condong pada unsur power metal yang dipadu dengan melodi j-pop serta penampilan aestetik ala idol jepang.

Kawaii metal bisa dirasakan sebagai campuran unik dari berbagai genre, mulai dari musik pop, rock, hingga dance. Sementara untuk penggunaan elemen heavy metal, bisa ditemukan elemen power metal, industrial metal, hingga kesan black metal.

Tema yang diangkat dalam kawaii metal kurang berelasi dengan subgenre heavy metal lainnya. Liriknya kurang agresif karena mengangkat isu musik pop, mulai dari rasa senang, cokelat, hingga anak kucing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *