"> Heavy Metal dan Babi

Heavy Metal dan Babi

Pada tahun 1570, seorang pelukis bernama Guiseppe Arcimboldo menciptakan karya berjudul “The Cook”, sebuah lukisan dengan efek sureal. Ketika lukisan itu ditempatkan di satu sisi, seperti memperlihatkan piring berisi daging panggang yang menyerupai babi. Namun ketika lukisan dibalik, maka muncullah mosaik ajaib yang seakan membentuk sebuah wajah tersembunyi. Sebuah wajah yang berjiwa jahat.

Semenjak itu, babi menjadi bagian dari budaya populer yang digunakan sebagai makian (baik secara verbal maupun visual), terutama untuk para pejabat yang rakus. Pejabat yang hasrat dan keserakahannya tak pernah terpuaskan melalui korupsi yang mereka lakukan.

Lalu, bagaimana dengan penggunaan babi dalam budaya heavy metal?

Mengasosiasikan hewan bermoncong panjang ini dengan musik metal adalah hal yang cukup sering dijumpai. Bahkan kadang menimbulkan miskonsepsi hingga kontroversi. Mulai dari penggunaannya pada lirik, logo, teknik permainan, hingga penggunaannya secara simbolik di atas panggung.

Lalu, mengapa harus babi? Mengapa bukan kuda, anjing, atau hewan lainnya?

Lirik

Penggunaan term babi dalam musik heavy metal bisa ditemukan pertama kali pada album “Paranoid” milik Black Sabbath yang dirilis pada tahun 1970. Album tersebut dibuka lewat lagu berjudul “War Pigs”. Sebelumnya, istilah “War Pigs” itu sendiri merujuk pada teknik perang yang digunakan dalam perang kuno di mana babi sebagai hewan militer. Babi-babi tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan dari gajah-gajah perang. Seiring waktu, “War Pigs” mengalami pergeseran makna ke hal-hal yang bersifat politis, utamanya untuk menyerang para anggota parlemen.

Namun, lagu “War Pigs” milik Black Sabbath justru tidak membahas hal yang politis. Hal itu tertuang lengkap lewat wawancara Geezer Butler dengan Noisecreep.

Lagu ini bercerita mengenai penyihir. Geezer Butler yang menulis lagu tersebut menyebut bahwa “War Pigs” semacam Natal-nya para setan. Malam di mana para setan keluar. Karena itulah lagu ini awalnya berjudul “Walpurgis” sebelum pihak label rekaman memintanya untuk mengubah judul tersebut karena terdengar terlalu satanis. Walpurgis pada abad ke-8 dikenal sebagai malam perayaan kanonisasi Santo Walpurgis, seorang yang begitu dielu-elukan oleh orang-orang Kristen di Jerman karena memerangi serangan hama, rabies, batuk rejan, hingga melawan sihir. Sejumlah umat Kristen kemudian terus menyalakan api unggun di malam Walpurgis untuk mengusir roh-roh jahat dan penyihir.

Adapun lagu “War Pigs” itu ditulis oleh Geezer Butler dengan tujuan sebagai analogi terhadap kejahatan jalanan. Di mana kumpulan massa yang sering turun ke jalan untuk membuat onar ia samakan dengan kejadian di era penyihir yang dikisahkan sering berkumpul menggunakan jubah hitam untuk melakukan ritual yang jahat. Ritual yang dipercaya bertujuan untuk menyebarkan wabah ke masyarakat.

Ditambah lagi ketika Geezer Butler menulis lagu itu, Perang Vietnam tengah berkecamuk. Meskipun pada periode itu dinas wajib militer di Inggris baru saja diakhiri, namun banyak pemuda Inggris yang khawatir mereka akan terkena wajib militer, mengingat AS yang tengah berperang dengan Vietnam dikenal memiliki hubungan militer yang kuat dengan Inggris. Itulah yang memulai “pemberontakan” Geezer Butler yang ia tuangkan dalam lirik. Ya, ia takut dipanggil wajib militer.

Setelahnya, ada banyak band metal yang menggunakan term babi secara tersirat maupun tersurat dalam lagu-lagunya.

Logo

Logo merupakan sebuah representasi dari sebuah band yang akan menjelaskan seperti apa musik mereka pada pandangan pertama. Hal itu yang sangat disadari oleh Lemmy Kilmister (1945-2005) ketika membentuk Motörhead. Joe Petagno, orang yang mendesain logo Motörhead bercerita pada Louder Sound bahwa ketika ia dan Lemmy berdiskusi soal desain logo, mereka sedang dibawah pengaruh alkohol. Lemmy meminta dibuatkan logo namun tidak jelas seperti apa yang ia inginkan. Terkadang terdengar seperti robot, ksatria, atau desain yang bisa digunakan oleh anak-anak motor sebagai back patch di jaket denim mereka.

Ketika Joe Petagno dalam perjalanan pulang, ia singgah di perpustakaan dan secara tidak sengaja menemukan buku mengenai tengkorak hewan. Di situ lah ia mulai memiliki ide untuk membuat logo Motörhead bertema tengkorak hewan. Ketika sketsanya tengah dibuat, terbesit sebuah ide mengapa ia tidak menciptakan saja tengkorak jenis baru, sebuah tengkorak hibrida. Ia pun mulai bermain-main dengan mencampur dan mencocokkan sketsa antara anjing, singa, serigala dan sebagainya. Pada akhirnya ia memutuskan menggunakan desain tengkorak anjing dan menambahkan gigi babi hutan yang sangat besar. Ia juga menambahkan tanduk dengan rantai menggantung pada bagian bawahnya, di mana pada bagian kiri rantai tersebut digantung tengkorak manusia kecil sebagai aksesoris. Adapun penambahan gantungan iron cross di bagian kanan rantai menjadi tanda akan keberanian. Iron cross itu sendiri merupakan dekorasi militer dari Kerajaan Prusia pada abad ke-17.

Setelah gambarnya selesai, Joe Petagno menyadari bahwa ia telah menciptakan sesuatu yang unik. Sebuah simbol anti-segalanya. Selama ini ia menyadari bahwa ada dorongan yang melekat pada sebagian besar orang untuk berteriak dan didengarkan, dan logo tersebut adalah simbol besar untuk berdiri teguh, menolak, menolak, menolak dan memberontak terhadap apa pun yang dianggap merugikan individualitas seseorang. Ia pun menamakannya sebagai “Snaggletooth”.

Namun kebanyakan orang membuat simplifikasi bahwa logo tersebut adalah babi, bukannya hibrida antara beberapa tengkorak hewan. Meski demikian, kejadian tersebut melecut banyak band dari beragam subgenre metal untuk ikut menggunakan babi sebagai bagian dari artwork-nya, dengan alasan yang berbeda-beda tentunya.

Teknik

Di akhir 80-an, muncul sebuah gaya vokal “aneh” yang diciptakan oleh band-band underground. Band-band tersebut banyak berasal dari sub-genre grindcore dan brutal death metal. Gaya vokal yang “aneh” itu dilakukan dengan menghirup atau mengembuskan napas sambil mengeringkan tenggorokan sehingga menghasilkan jeritan bernada tinggi yang “aneh” jika dibandingkan dengan teknik vokal yang sudah ada saat itu. Suara menjerit itu kemudian lebih terdengar sebagai suara pekikan yang membuat kata-kata yang terlontar terdengar seperti -ee, -oe, -ue, -ae, -ei, -oi atau -oo. Teknik ini juga menciptakan suara layaknya mendengkur akibat tambahan teknik dengan melipat lidah ke belakang.

Semakin disimak, semakin terdengar jelas bahwa suara-suara yang dihasilkan dari teknik seperti itu menyerupai jeritan ataupun dengkuran babi. Jadilah teknik menyanyi tersebut disebut sebagai “pig squealing”. Band seperti Job for a Cowboy dan Despised Icon mempopulerkan teknik ini di album-album awal mereka, meskipun beberapa waktu kemudian mereka tak lagi menggunakannya.

Popularitas dari “pig squealing” semakin menanjak seiring tersadarnya orang-orang bahwa teknik tersebut tergolong sangat susah untuk dilakukan dan membutuhkan waktu latihan yang tidak sedikit. Ditambah lagi potensi terhadap cederanya pita suara juga sangat tinggi. Namun tak mengapa, karena semakin extreme, maka semakin bagus bagi para penikmat musik underground di kala itu.

Seiring waktu, teknik vokal “pig squealing” mengalami banyak modifikasi dalam perkembangannya.

Properti

Penggunaan babi sebagai bagian dari properti panggung dipopulerkan oleh band-band beraliran black metal. Sub-genre ini memang sangat sering memicu kontroversi, karena tindakan dan ideologi mereka. Khusus sebagai properti panggung, band Mayhem (Norwegia) terkenal karena vokalisnya Per Yngve Ohlin atau yang lebih dikenal dengan nama panggung “Dead” (1969–1991), sering menaruh kepala babi yang tertusuk pada pasak di atas panggung sebagai sebuah dekorasi. Tujuannya? Mencari perhatian.

Lalu mengapa harus kepala babi? Bukankah masih ada hewan lain? Itu dikarenakan kepala babi lebih mudah melekat dalam ingatan penonton karena ukurannya yang besar dan bentuknya yang jelek. Ditambah jumlahnya yang lebih banyak dibanding bangkai hewan lain dan sangat mudah untuk didapatkan, cukup datang ke rumah pemotongan hewan. Tentu cukup sulit jika mereka memutuskan menggunakan bangkai gagak hitam.

Kala itu, mereka belum terkenal, bahkan belum merilis album. Mereka sibuk mencari identitas. Hal itu bisa dilihat dalam wawancara Per “Dead” Ohlin bersama vokalis band Marduk, Morgan “Evil” Håkansson yang tertuang dalam Slayer Fanzine (1989), sebuah fanzine lokal Norwegia ciptaan Jon “Metalion” Kristiansen yang dikumpulkan dan ditulis kembali dalam sebuh buku berjudul “Metalion: The Slayer Mag Diaries” (2011).

Dalam wawancara tersebut, vokalis Per “Dead” Ohlin mengakui bahwa mereka belum pernah mendapatkan tawaran manggung yang sesungguhnya. Sekalipun mereka tampil, respon dari penonton tidak seperti yang mereka harapkan. Maka dari itu, di sebuah konser yang dihadiri sekitar 300 penonton, Per “Dead” Ohlin memutuskan untuk melemparkan kepala babi yang menjadi dekorasi panggung tersebut ke arah penonton. Hasilnya? Penonton kabur.

Itu merupakan cara Per “Dead” Ohlin untuk “menyeleksi” mana penonton mereka, dan mana yang bukan. Ia sengaja menakut-nakuti mereka, penonton yang ia anggap memang tidak layak ada pada konsernya. Dengan demikian, ia merasa punya semacam data soal seberapa banyak orang yang menyukai aksinya tersebut. Jadilah Mayhem sebagai band yang terasosiasi dengan kepala babi.

Tahun 1994, pasca bunuh diri vokalis Per “Dead” Ohlin (1991) serta terbunuhnya gitaris Øystein Aarseth aka Euronymous (1993), Mayhem dibentuk kembali dan kali ini memutuskan untuk merilis debut album. Adapun slot vokal diisi oleh pria Hungaria bernama Attila Csihar. Ketika Csihar pertama kali bergabung dengan Mayhem, ia merasa bingung karena band tersebut sudah punya citra terhadap kepala babi. Apalagi, Csihar pernah menyatakan dalam sebuah wawancara dengan majalah Metalheads Forever bahwa saat itu dia adalah seorang vegetarian.

Ketika Csihar melihat ke mata seekor binatang, ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh binatang tersebut, membuatnya tak lagi bernafsu mengonsumsinya. Bahkan lalat saja tidak tega untuk ia bunuh. Namun di sisi lain, ia diwajibkan untuk berkompromi dengan citra babi yang terlanjur melekat pada band barunya itu.

Csihar kemudian menemukan sebuah ide bagaimana ia tetap bisa menjalani hidup sebagai vegetarian namun tetap menjadikan babi sebagai simbolisme ketika di atas panggung. Lewat wawancaranya dengan tabloid Norwegia Verdens Gang, Csihar mengatakan bahwa kepala babi yang ia gunakan sebagai dekorasi merupakan cerminan terhadap masyarakat saat ini. “Setiap orang yang makan daging menjadi lebih gemuk dan semakin gemuk dan perlahan tapi pasti (bentuk tubuhnya) berubah menjadi (selayaknya) babi”, ujarnya.

Setelahnya, banyak bermunculan band-band black metal, utamanya dari wilayah Skandinavia, yang menggunakan babi sebagai bagian dari aksi panggungnya. Beberapa di antaranya dikemas dengan lebih “menarik” untuk mendapatkan atensi dari penonton. Sebuah gimmick, tentu saja.

***

Selain itu, ada pula band grindcore asal Amerika yang menggunakan babi sebagai nama bandnya, yaitu Pig Destroyer. Penggunaan nama demikian diakui oleh gitarisnya Scott Hull sebagai sesuatu yang disengaja dengan tujuan untuk menghina namun lebih kreatif dari nama band lamanya, yaitu Anal Cunt. Pada awalnya, mereka ingin menggunakan “Cop Killer” atau “Cop Destroyer” namun terlihat terlalu kontroversi. Pada akhirnya, mereka memilih “Pig Destroyer” dikarenakan pig atau babi sudah menjadi istilah gaul di Amerika yang ditujukan untuk menghina polisi. Hal itu dikonfirmasi oleh vokalis J. R. Hayes saat melakukan interview dengan DC Heavy Metal.


Dengan beberapa kejadian di atas, musik heavy metal kemudian digeneralisir, bahkan babi dinarasikan sebagai sebuah simbol musik metal secara keseluruhan. Padahal, kemunculan babi-babi tersebut memiliki alasan dan kondisi yang berbeda-beda, bahkan ada kesan yang kebetulan atau sekedar dicocok-cocokkan saja. Apalagi, porsinya terbilang kecil dibanding beragam kejadian lainnya. Namun bagaimanapun juga, harus diakui bahwa porsi yang kecil itu memang mampu menyita perhatian yang besar.

Kekinian, kejadian-kejadian yang porsinya sangat kecil itu diakumulasikan secara terus-menerus sehingga timbullah impresi bahwa babi adalah representasi dari musik heavy metal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *