"> Headbanging = Cedera Otak?

Headbanging = Cedera Otak?

Headbanging merupakan aktivitas menggerak-gerakkan kepala ke atas dan ke bawah dengan mengikuti hentakan dari musik. Kebanyakan penonton konser musik heavy metal melakukan hal ini, yang mana asal usulnya itu sendiri masih diperdebatkan.

Ada kemungkinan aktivitas headbanging terjadi pertama kali saat Led Zeppelin menyebrang lautan untuk melakukan konser pertamanya di Amerika Serikat pada tahun 1969. Saat konser di panggung Boston Tea Party, penonton pada barisan depan terlihat menggerakkan kepalanya mengikuti irama musik. Namun hal ini tidak pernah terdokumentasi secara visual. Lebih lanjut, rekaman konser Led Zeppelin yang tampil di Royal Albert Hall pada 9 Januari 1970, yang nanti dirilis pada tahun 2003, merekam dengan jelas bahwa penonton pada barisan depan melakukan headbanging di sepanjang konser.

Sementara untuk para pelaku musik itu sendiri, Ozzy Osbourne dan Geezer Butler dari band Black Sabbath merupakan musisi pertama yang berhasil didokumentasikan melakukan headbanging di atas panggung. Hal itu terekam pada konser mereka di Paris pada tahun 1970. Hal ini semakin menarik ketika Lemmy Kilmister (Motörhead) dalam sesi wawancara serial dokumenter The Decline of Western Civilization II: The Metal Years mengungkapkan bahwa bisa saja kata headbanging itu muncul dari nama sebuah band, misalnya saja “Motorheadbanger” atau sejenisnya.

Adapun Ian Gillan (Deep Purple) yang juga digadang-gadang sebagai salah satu vokalis yang menciptakan headbanging, lebih memilih untuk mengatakan bahwa apa yang ia lakukan di periode 70-an bukanlah headbanging seperti yang sekarang orang pahami. Yang ia lakukan lebih pada aktifitas menggerakkan kepala dengan tujuan membuat rambutnya terlihat mengambang. Itu saja.

Seiring waktu, asal usul headbanging ini kemudian menjadi sesuatu yang bersifat tidak begitu penting. Intinya, headbanging itu asik untuk dilakukan. Siapa yang peduli dengan asal usulnya? Apalagi pada tahun 2005, Terry Balsamo, gitaris Evanescence mengalami stroke yang mana oleh dokter diduga akibat terlalu sering melakukan headbanging. Semenjak itu, headbanging kemudian lebih sering diperdebatkan dari sudut pandang medis dibanding antropologi.

Dave Mustaine (Megadeth) merupakan satu dari beberapa musisi metal yang banyak berbicara mengenai dampak kesehatan yang ditimbulkan akibat kebiasaan headbanging di atas panggung. Ia sudah melawan rasa sakit yang disebabkan oleh stenosis (penyempitan tulang belakang) selama hampir 10 tahun melalui beragam cara, mulai dari yoga, akupuntur, suntikan, hingga obat-obatan narkotika dan non-narkotika. Namun pada akhirnya, Dave Mustaine menyerah dan harus menjalani operasi tulang belakang pada tahun 2011.

Begitu pula dengan Tom Araya (Slayer) yang pada awalnya menyikapi masalah pada leher dan punggungnya lewat perawatan minimal. Ia sangat menghindari rute operasi besar, hingga pada akhir 2009 ia tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya saat melakukan tour di Australia. Rasa nyeri yang hebat, mati rasa, hingga kejang otot membuatnya memutuskan untuk mengambil prosedur bedah.

Dalam sesi wawancara dengan Noisecreep pada April 2010, Araya mengakui bahwa dirinya tidak bisa headbang lagi. Hal ini dikarenakan tulang belakangnya sudah dipasangi pelat baja titanium, yang disatukan oleh sekrup, tentu saja. Araya mengatakan bahwa cedera punggungnya disebabkan oleh kebiasaan headbanging selama puluhan tahun yang disertai dengan posisi yang salah, sehingga mengakibatkan cedera pada leher dan punggungnya. Tom Araya memang memiliki kebiasaan headbanging dengan model “helikopter”, yaitu menggoyangkan kepala layakanya baling-baling helikopter. Tak ketinggalan pula model “ 8 headbanging” yang menggoyangkan kepala selayaknya membentuk angka delapan.

Lantas, apakah betul headbanging bisa menimbulkan dampak seserius itu?

Pada tanggal 5 Juli 2014, dokter spesialis neurologi asal Jerman bernama Dr. Ariyan Pirayesh Islamian, mengungkapkan bahwa headbanging dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Studi kasus ini diterbitkan dalam jurnal medis Lancet dengan judul “Chronic Subdural Haematoma Secondary to Headbanging”.

Studi ini merinci pada kasus seorang penggemar berat musik metal yang mengalami pendarahan di otak. Pria berusia 50 tahun itu mengeluhkan sakit kepala yang konstan selama dua minggu saat dirawat di rumah sakit Hannover Medical School. Pria ini tidak menggunakan obat-obatan dan tidak memiliki riwayat medis yang dapat menjelaskan rasa sakit yang dideritanya. Tetapi dia mengatakan kepada dokter bahwa sebulan sebelumnya, ia menghadiri konser Motörhead dan melakukan headbanging di sepanjang konser. Adapun hasil CT scan menunjukkan pria tersebut menderita pendarahan yang secara medis dikenal sebagai subdural hematoma kronis pada sisi kanan otaknya.

Ahli bedah kemudian mengebor sebuah lubang kecil di tengkoraknya dan mengeluarkan darah yang membeku. Sakit kepalanya kemudian sembuh, lelaki itu pulang dan dua bulan kemudian, ia diberi laporan kesehatan yang menyatakan bahwa ia sudah sehat.

Dokter menulis dalam penelitian tersebut, bahwa “Headbanging, dengan kombinasi akselerasi dan deselerasi yang maju-mundur, menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang kemudian menyebabkan pendarahan …”

“Kami tidak menentang headbanging”, kata Dr. Ariyan Pirayesh Islamian. “Risiko cedera sangat, sangat rendah. Tapi saya pikir, jika pasien kami pergi ke konser musik klasik, maka masalah ini tidak akan terjadi.”

Sementara itu, pada 2008, para peneliti di The University of New South Wales (UNSW) sudah pernah menerbitkan penelitian mengenai risiko cedera kepala dan leher bagi para headbangers. Mereka memperingatkan para headbanger yang melakukan headbang dalam rentang waktu yang panjang bisa meningkatkan risiko terhadap munculnya sakit kepala, bahkan stroke. Mereka kemudian memberi saran untuk meminimalkan risiko tersebut dengan mengurangi aktivitas headbang itu sendiri atau mengganti jenis musik yang didengarkan dari musik metal ke musik rock. 😀

***

Pada bulan Mei 2010, lewat wawancara bersama KNAC.com, Tom Araya berkata: “…satu-satunya saran yang saya miliki untuk orang-orang adalah: Tidak ada yang salah dengan headbanging, lakukan saja dengan tidak berlebihan. Pahami pula bahwa pada titik tertentu, headbanging bisa merusak kalian. Orang-orang akan melakukan apa yang ingin mereka lakukan, dan selama mereka sadar bahwa resiko tersebut bisa saja terjadi pada mereka, maka itu pilihan mereka…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *