"> Everything Louder than Everyone Else

Everything Louder than Everyone Else

“Everything Louder than Everyone Else”, sebuah baris yang begitu populer di lanskap Heavy Metal.

Bagaimana ia muncul?


Semuanya bermula pada Agustus 1972, ketika seorang pria bernama Ken Flegg yang kala itu bekerja sebagai teknisi Marshall ikut serta bersama band Deep Purple dalam pegelaran konser di Tokyo. Saat konser berlangsung, terjadi jeda sebelum lagu “The Mule” dimainkan. Gitaris Ritchie Blackmore meminta tolong pada Ken Flegg dengan berkata:

“Yeah everything up here… Please. A bit more monitor if you’ve got it.”

Hal ini diikuti oleh vokalis Ian Gillan yang secara samar-samar ikut berkata:

“Can I have everything louder than everything else?”

Ritchie Blackmore kemudian mempertegas pertanyaan Ian Gillan dengan berkata:

“Yeah, can we have everything louder than everything else.”

Kejadian teknis di atas terekam secara utuh pada permulaan lagu “The Mule” yang masih bisa kita dengarkan dalam live album Deep Purple, “Made in Japan”, yang dirilis pada tahun 1972.

Potongan kalimat “Everything Louder than Everything Else” itu kemudian membekas di telinga seorang anak muda bernama Lemmy Kilmister, yang kala itu masih menjadi personil band Hawkwind. Pada tahun 1975, pasca dipecat dari band Hawkwind, Lemmy Kilmister membentuk band baru bernama Motörhead. Dengan band barunya itu, Lemmy kemudian membangun obsesi dalam dirinya untuk memainkan musik yang lebih keras dari siapapun. “Everything Louder than Everything Else!”.

Bersama Motörhead, obsesi Lemmy berhasil diwujudkan. Tak tanggung-tanggung, pada saat tour di tahun 1979, konser Motörhead berhasil mencapai rekor dengan menghasilkan suara pada angka 130 dB. Sebagai catatan, suara pada angka 115 dB saja sudah dianggap melebihi ambang batas dan meningkatkan resiko gangguan kehilangan pendengaran (standar NIOS, OSHA, & WHO).

Namun hal itu tidak digubris oleh Motörhead. Bagaimanapun juga, di era itu, band-band musik keras memang tengah berkompetisi dalam hal siapa yang bisa menciptakan suara paling keras. Mereka terobsesi untuk menaruh speaker sebanyak mungkin, menciptakan “The Wall of Sound”. Semakin keras suara dari sebuah konser, semakin menegaskan posisi band tersebut di industri. Tak peduli dampaknya.

Seiring waktu, Motörhead semakin terpacu untuk meningkatkan “pencapaiannya” pada tour tahun 1979 itu. Mereka kemudian menjadi sensasi di UK ketika suara keras dari konser mereka menciptakan getaran yang berdampak pada pecahnya atap balai Kota Newcastle. Begitu juga dengan kaca-kaca jendela Politeknik Wolverhampton yang pecah karena getaran dari suara konser mereka.

Dan… obsesi Lemmy Killmister akan kalimat “Everything Louder than Everything Else” akhirnya terpenuhi. Namun alih-alih membuat klarifikasi akan dampak yang sudah ia hasilkan, Lemmy justru semakin menjadi. Hal itu ia anggap sebagai sebuah pencapaian tersendiri.

Semenjak itu, di setiap konsernya, Lemmy naik ke atas panggung dan membuka dengan petikan bass terdistorsi disertai kalimat iconic:

“We are Motorhead and we play Rock and Roll,

Is it loud enough?”

Penonton secara kompak menyambut dengan teriakan:

“No…!!!”

Entah karena suara yang dihasilkan speaker itu memang tidak cukup keras atau mereka hanya bertingkah sok hebat, seakan memiliki gendang telinga di atas manusia rata-rata.

Lemmy semakin kegirangan melihat respon dari para pemujanya. Ia pun terpacu untuk berkata:

“Then we’ll turn it up,

I don’t fucking care if you go deaf!

I’m fucking deaf already”.

***

Beberapa tahun berselang, tepatnya pada tahun 1999, Motörhead memutuskan untuk merilis live album. Mereka kemudian memberi tajuk “Everything Louder than Everyone Else” pada album yang sebenarnya sudah direkam pada tahun 1998 itu. Album ini pun diikuti dengan produksi merchandise menggunakan tajuk serupa.

Disokong lewat beragam produk, mulai dari kaos, jaket, hingga backpatch, maka jadilah kalimat “Everything Louder than Everyone Else” itu begitu populer di kalangan konsumen musik heavy metal. Bagi mereka, mengenakan atribut tersebut menunjukkan bahwa musik yang mereka dengarkan lebih keras dari musik yang didengarkan orang lain, lebih keras dari musik apapun.

Sebuah propaganda yang luar biasa.

Sebuah bukti bagaimana teknik marketing itu sangat bisa mengarahkan ke mana domba-domba metalhead yang sedang tersesat itu akan digiring.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *